Kamis, 18 November 2021

Jawaban modul seri guru belajar literasi dan numerasi- Miskonsepsi Perkembangan Numerasi

 Apakah numerasi mulai bisa dikenalkan ketika anak berusia 2 tahun?

Pernah membaca atau melihat sebuah tulisan yang mengatakan bahwa perkembangan numerasi seorang anak dimulai ketika memasuki tahapan early childhood, yaitu ketika berumur 2-6 tahun, seperti sebuah flyer di bawah ini? 


Apakah bapak/ibu setuju dengan pernyataan tersebut?

JAWABAN

Tak ada yang salah dengan pernyataan di atas, hanya saja mungkin sedikit kurang tepat. Kenapa? Karena sebenarnya tahap perkembangan numerasi sudah bisa dilihat sejak anak masih berusia di di bawah 1 tahun. Banyak yang berasumsi bahwa numerasi sebatas kemampuan tentang mengenal angka-angka atau ilmu berhitung seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang baru bisa dipelajari atau diperkenalkan ketika anak sudah memasuki usia pra-sekolah. Padahal, numerasi tidak hanya sebatas itu saja. Perkembangan numerasi bahkan bisa dilihat dari contoh-contoh sederhana yang sering terlihat pada seorang bayi, yang mungkin selama ini dianggap bukan bagian dari perkembangan numerasi. Misalnya, menurut Canadian Child Care Federation (2009), ekspresi terkejut dari seorang anak yang berumur 2-4 bulan ketika sebuah boneka meloncat lebih banyak dari yang biasanya mereka lihat, sudah memperlihatkan adanya perkembangan numerasi pada anak tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa semenjak bayi, seorang anak sudah mampu mengenali pola dengan mengamati apa yang ada di sekitarnya dan pola merupakan bagian dari numerasi.


Apakah anak-anak di usia pra-sekolah sudah harus bisa menghitung dengan lancar dan mampu menghafal tabel perkalian?

JAWABAN

Beberapa orang tua juga terlihat khawatir ketika pada usia pra-sekolah seorang anak belum bisa melakukan operasi hitung dengan lancar sehingga memasukkan anaknya ke lembaga kursus agar bisa berhitung dengan cepat. Lagi-lagi tidak ada yang salah dengan keputusan ini. Hanya saja dikhawatirkan akan ada tahapan-tahapan perkembangan numerasi yang terlewatkan karena anak langsung diberikan konsep berhitung cepat dengan hafalan dan latihan (drill). Padahal, anak-anak di usia pra-sekolah ini diharapkan tidak hanya sekedar bisa menghafal angka-angka atau menghafal tabel perkalian, tapi lebih agar mereka bisa memahami konsep dasar serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dengan atau tanpa bantuan benda-benda konkrit. Hal-hal yang bersifat hafalan cenderung lebih mudah dilupakan dikarenakan otak manusia bekerja cerdas dengan membuang memori yang tidak bermanfaat. Beberapa kasus di bimbingan belajar, murid dilatih menghafal rumus/cara cepat untuk menghadapi ujian tanpa adanya penjelasan mengenai konsep dasar. Akibatnya, setelah ujian selesai maka rumus/cara cepat tersebut sudah dilupakan.


Apakah numerasi adalah konsep matematika dasar yang hanya perlu dipelajari pada tingkatan sekolah dasar dan menengah pertama?

JAWABAN

Ada pandangan yang beranggapan bahwa untuk anak yang sudah berada di usia sekolah menengah atas atau orang dewasa sudah tidak perlu lagi mempelajari numerasi. Hal ini disebabkan karena numerasi dianggap sebatas ilmu dasar matematika yang hanya perlu dipelajari di tingkatan sekolah dasar. Anggapan ini tentu saja tidak tepat. Numerasi memang tidak memerlukan kemampuan matematika yang tinggi, namun ini tidak berarti bahwa kepercayaan diri kita terhadap kemampuan matematika dasar yang kita miliki sudah cukup untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa? Karena seringkali permasalahan yang kita hadapi dalam dunia nyata justru lebih kompleks sehingga memerlukan kemampuan numerasi yang baik (National Numeracy, 2012). Ini artinya, belajar numerasi sudah bisa dilakukan semenjak seorang anak baru lahir dan akan terus berlanjut sampai anak tersebut dewasa. Tentu saja dengan kemampuan-kemampuan numerasi yang berbeda pada setiap level perkembangannya. 


1.c.2. Miskonsepsi Perkembangan Literasi 2



1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai Anak yang bisa membaca saat lulus PAUD berarti perkembangan literasinya bagus.

Jawaban

Perkembangan literasi pada anak usia sampai 8 tahun adalah kemampuan anak menerima informasi lisan dengan tepat, menyampaikan ide, gagasan dengan cara berbicara runut dan pilihan kata beragam. Anak selesai pendidikan di PAUD yang sudah membaca lancar, sebagian besar masih perlu dibantu untuk memahami bacaan lisan disebabkan urutan stimulasi keterampilan berbahasa tidak sesuai dengan urutan yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca. Aspek lain yang mempengaruhi adalah stimulasi pengetahuan bahasa yang dimulai dari visual bunyi (huruf) yang seharusnya dimulai dari bunyi ( fonem, nada, jeda, tekanan dan tempo

2. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai: Cara mengukur perkembangan literasi adalah dengan tes baca tulis saat masuk SD.

Jawaban

Perkembangan literasi pada anak usia di bawah 8 tahun seharusnya dilakukan dengan bahasa lisan dalam bentuk tanya jawab. Untuk mengecek pengetahuan bunyi bahasa dilakukan dengan cara mengecek bunyi yang dikenal. Keterampilan menulis dilihat dari kemampuan meggunaan alat tulis dan ide yang dituangkan dalam bentuk gambar.

Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai : Siswa SMP kurang minat baca karena lebih tertarik dengan gawai.

Jawaban

Sebagian besar anak lebih tertarik dengan gawai karena tidak mendapatkan keterampilan membaca untuk belajar. Keterampilan membaca untuk belajar perlu dilatihkan dan diulang pada semua mata pelajaran. Anak dilatih mulai dari memilih buku, aneka teknik  membaca, dimodelkan dan diberikan aneka jenis tema untuk dibaca.  

Studi Kasus Konsep Dasar Numerasi Modul 1.b.3.

Setelah mempelajari miskonsepsi literasi dan konsep numerasi, pada bagian ini Anda akan diberikan beberapa kasus yang berkaitan dengan numerasi.  Diskusikan apakah kasus-kasus berikut ini dapat mengukur kemampuan numerasi peserta didik.

Perhatikan ilustrasi berikut ini.  

  1. Pak Yoga memiliki 15 meter kayu. Dia ingin membuat beberapa buah rak buku. Setiap rak buku membutuhkan 4 meter kayu dalam proses pembuatannya. Berapa banyak rak buku yang dapat dibuat oleh Pak Yoga?  
  2. 15 orang anak akan pergi ke sebuah toko buku. Mereka berencana untuk memesan taksi.  Taksi tersebut hanya dapat membawa paling banyak 4 orang penumpang. Berapa banyak taksi yang mereka butuhkan?  
  3. Kegiatan jalan santai yang akan diselenggarakan di bulan Agustus akan menempuh jarak 15 km. Lintasan tersebut akan dibagi menjadi 4 sublintasan. Berapa panjang jarak setiap sublintasan?  

Pertanyaan: 

  1. Apakah yang menarik dari ketiga ilustrasi tersebut? 
  2. Terdapat dua orang murid A dan murid B memberikan jawaban terhadap ketiga pertanyaan tersebut.  
  3. Murid A menjawab pertanyaan a, b dan c dengan jawaban yang sama yaitu 3,75.  Sementara murid B menjawab untuk pertanyaan a dengan jawaban 3 rak buku,  pertanyaan b dengan jawaban 4 taksi dan pertanyaan c dengan jawaban 3,75 km. 
  4. Berdasarkan jawaban kedua murid tersebut, manakah menurut Anda yang memiliki kemampuan numerasi yang lebih baik. Jelaskan alasan Anda dan diskusikan dengan teman sejawat Anda.
Seorang anak diminta untuk menghitung nilai mean, median dan modus suatu data. Anak tersebut kemudian menggunakan kalkulator atau alat hitung semacamnya untuk melakukan perhitungan tersebut.  Jika seseorang mengerjakan permasalahan matematika kontekstual seperti permasalahan di atas tetapi menghitung dengan alat hitung misalnya kalkulator apakah dapat dikatakan memiliki literasi matematika yang baik? 
Permasalahan yang sering muncul dalam pembelajaran matematika adalah sering ditemukan beberapa murid yang mampu mengerjakan perhitungan matematika secara formal, ketika dihadapkan dengan permasalahan kontektual yang sedikit berbeda walapun masih menggunakan konsep matematika yang sama, sering mengalami kesulitan untuk menyelesaikan masalah kontekstual tersebut.  
Diskusikan dengan peserta lainnya, tentang hal tersebut. 
Apakah kasus seperti ini ada hubunganya dengan kemampuan numerasi? Jelaskan.

Selasa, 16 November 2021

Guru Belajar Seri Literasi dan Numerasi








1. Penjelasan Program

     Pengantar Bimtek

Sahabat Guru Belajar,

Selamat datang di Bimbingan Teknik (Bimtek)  Literasi dan Numerasi Palform Guru Belajar dan Berbagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan literasi dan numerasi bagi anak Indonesia lima belas tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang kurang menggembirakan. Hasil tes PISA belum dapat menunjukkan perkembangan yang sesuai harapan. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)  sudah diprogramkan dan diberikan berbagai pelatihan. Dari praktik penerapan program GLS masing-masing daerah memiliki tafsir yang beragam. Penafsiran ini berdampak pada pelaksanaan program literasi di sekolah.

Dalam rangka meningkatkan kecakapan literasi dan numerasi guru kami menyelenggarakan Bimtek Literasi dan Numerasi ditujukan untuk guru SD dan SMP. Bimtek ini terdiri dari 3 Modul yaitu: 1) Konsep Dasar Literasi dan Numerasi, 2) Implementasi Literasi dan Numerasi pada pembelajaran di sekolah dan 3) Praktik Baik Literasi dan Numerasi di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Melihat urgensinya materi dalam Bimtek ini, kami berharap Guru SMA/SMK/MA dan Kepala sekolah SD, SMP dan SMA seyogyanya mengikuti Bimtek ini. Hal ini akan banyak membantu proses implementasi literasi dan Numerasi pada jenjang tersebut. Para Widya Iswara Bahasa Indonesia dan Widya Iswara Matematika, perlu juga melihat materi dan perkembangan konsep serta implementasi Literasi dan Numerasi pada Bimtek ini.  

Sahabat Guru Belajar,

Setelah mengikuti Bimtek ini diharapkan peserta memiliki kecakapan literasi berkembang dengan indikator: 1) mampu melihat profil perkembangan literasi anak, 2) mampu menyiapkan kelas yang kaya teks, 3) mengetahui struktur pengetahuan bahasa ( bunyi, kata, kalimat dan pragmatik) 4) mampu mengomunikasikan ide dalam bentuk teks dan lisan dengan runtut.

Adapun gambaran umum dari materi ketiga modul adalah sebagai berikut:

  • Modul 1 Konsep Dasar Literasi dan Numerasi

Pada modul ini akan dibahas: 1) konsep dasar literasi, 2) konsep dasar numerasi, 3) perkembangan literasi, 4) perkembangan numerasi dan 5) pemrofilan literasi anak. Setelah menyelesaikan modul ini peserta akan dimudahkan untuk belajar modul 2.

  •  Modul 2 Implementasi Literasi dan Numerasi Berbasis Kelas

Pada modul 2 membahas: 1) implementasi Literasi dan Numerasi di kelas, 2) Implementasi Literasi dan Numerasi  tematik, 3)  Implementasi Literasi dan Numerasi berbasis mata pelajaran dan 4) Penyusunan program literasi dan numerasi di kafe.

  •  Modul 3 Praktik baik penyelenggaraan Literasi dan Numerasi. 

Sub modul terdiri dari 1) Literasi dan numerasi pada Keluarga, 2) literasi dan numerasi di Sekolah dan 3) Literasi dan Numerasi  di masyarakat. 

 Sahabat guru, selamat mengikuti Bimtek.

2. Penjelasan Program

     Sasaran dan tujuan

Sasaran program pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis platform Guru Belajar & Berbagi adalah Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas di jenjang SD, SMP, SMA/SMK di Indonesia maupun guru yang berada di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Setelah mengikuti bimbingan teknis ini, peserta  diharapkan mampu menjelaskan praktik baik tentang pengembangan aktivitas atau kegiatan yang mendorong peningkatan literasi dan numerasi di sekolah dalam bentuk artikel, video, infografis, dan lain-lain yang dapat menjadi inspirasi serta rujukan bagi guru di seluruh Indonesia.

Adapun tujuan dari bimbingan teknis ini adalah: 

  1. memberikan pengetahuan pengertian literasi dan numerasi dengan tepat, 
  2. memberikan pemahaman  perkembangan  literasi dan numerasi sebagai bagian dari proses belajar berkelanjutan,
  3. memberikan keterampilan pemrofilan perkembangan literasi sebagai dasar pembelajaran numerasi, 
  4. memberikan pemodelan implementasi literasi dan numerasi pada pembelajaran di kelas, dan 
  5. memberikan pengetahuan tentang praktik baik literasi dan numerasi pada keluarga, sekolah dan masyarakat.   

3. Penjelasan Program

     Hasil yang diharapkan

Dengan adanya pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis platform Guru Belajar & Berbagi, secara umum diharapkan dapat menghasilkan gambaran kegiatan dan program yang berisi miskonsepsi, konsepsi dasar, implementasi, dan praktik baik sebagai referensi guru lainnya dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia. Adapun secara khusus hasil yang diharapkan dari kegiatan bimbingan teknis ini diantaranya:

  1. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi guru pendidikan dasar.
  2. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi kepala sekolah pada pendidikan dasar.
  3. Peningkatan keterampilan dasar literasi dan numerasi pengawas sekolah pada pendidikan dasar.
  4. Mewujudkan keberlanjutan proses pembelajaran berbasis literasi dan numerasi sesuai dengan tingkatan kelas di jenjang pendidikan dasar

4. Penjelasan Program

     Pendaftaran dan Proses Belajar

  1. Peserta bimtek diberi keleluasaan untuk memilih jadwal waktu belajar sendiri sesuai pilihan waktu yang telah disediakan, melalui laman gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id;
  2. Peserta mengikuti bimtek selama 32 Jam Pelajaran (JP) sesuai waktu yang telah dipilih. Peserta diharuskan untuk menuntaskan seluruh rangkaian bimtek hingga mengikuti Tes Akhir dan mendapatkan skor Tes Akhir paling rendah 70%. Peserta yang tidak dapat menyelesaikan modul bimtek atau perolehan skor Tes Akhir kurang dari 70%, dapat mengulang sampai dengan 3 kali post test. Apabila 3 (tiga) kali kesempatan tetap tidak berhasil /dinyatakan tidak tuntas, maka peserta   dapat mengulang kembali dengan memilih jadwal yang masih ada.
  3. Peserta yang sudah menuntaskan bimtek diharuskan membuat pengimbasan dan mengupload bukti fisiknya pada link yang sudah disediakan. Adapun Rencana Tindak Lanjut dibuat sebagai berikut:
    1. Untuk guru, rencana strategi implementasi literasi dan numerasi dalam kegiatan pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu. Untuk Kepala dan Pengawas Sekolah, rencana implementasi strategi literasi dan numerasi di sekolah.
    2. Rencana pengimbasan kepada rekan sejawat di kelompok kerja (PKG, KKG, MGMP, MKKS, KKPS/MKPS) secara luring ataupun daring.
  4. Sertifikat dapat diunduh bagi peserta yang sudah menyelesaikan pengimbasan. 

5. Penjelasan Program

     Sertifikat



    Peserta akan mendapat E-sertifikat untuk kegiatan bimtek sebagai bukti telah menuntaskan tahapan  dengan ketentuan sudah menuntaskan seluruh rangkaian bimtek  dan mendapatkan skor akhir paling rendah 70%. 

    E-Sertifikat yang telah diperoleh dapat diunduh pada laman https://gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id/ atau di portofolio guru pada akun SIM-PKB.

    6. Penjelasan Program

    Penutup

    Bimbingan teknis peningkatan literasi dan numerasi berbasis Platform Guru Belajar & Berbagi bagi para guru penggerak di jenjang Pendidikan SD dan SMPmerupakan suatu kegiatan yang penting dan strategis Direktorat GTK DIKDAS Kemdikbudristek dalam rangka memfasilitasi para guru SD, dan SMP dalam upaya peningkatan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia. Penyusunan pedoman bimtek ini dimaksudkan sebagai acuan bagi penyelenggaraan bimbingan teknis dalam perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, dan pemantauan sekaligus evaluasi bimbingan teknis peningkatan literasi dan numerasi di Indonesia. Dengan adanya pedoman bimbingan teknis literasi dan numerasi berbasis Platform Guru Belajar & Berbagi diharapkan dapat menghasilkan gambaran kegiatan dan program yang berisi praktik baik sebagai referensi guru lainnya dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia.

Tugas Modul 1.2.a.9. Koneksi Antar Materi – Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

 


1. Apa yang Anda pahami mengenai nilai dan peran Guru Penggerak?

    Nilai dan peran guru penggerak sejatinya melekat dalam diri pribadi. Terutama pribadi guru yang merdeka untuk bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila. Nilai guru penggerak akan menjelma menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid adalah kunci melakukan perubahan diri dan sekitar. Sedangkan peran guru penggerak merupakan gerbang masuk sebuah perubahan. Nilai dan peran tersebut haruslah seimbang dalam diri guru penggerak. Keseimbangan yang akan menjaga langkah tetap pada jalurnya perubahan.

2.       Apakah ada keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara? jelaskan! Sintesis Antar Materi

Nilai dan peran guru penggerak berkelindan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara. Keduanya saling menguatkan dalam mewujudkan. Nilai dan peran akan terus bertumbuh seiring dengan pemahaman guru penggerak tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara yang terus bertambah. Sebagai contoh, nilai berpihak pada murid tidak lepas dari filosofi berhamba pada murid yang digaungkan Ki Hadjar Dewantara. Demikian halnya dengan peran guru penggerak. Contohnya adalah peran guru penggerak dalam mewujudkan kepemimpinan murid merupakan pengejawantahan filosofi guru sebagai penuntun. 

Selain melakukan hal- hal di atas seorang guru penggerak harus memiliki 4 kompetensi wajib yaitu

1. Memimpin pembelajaran

2. Mengembangkan diri dan orang lain

3. Memimpin pengembangan sekolah

4. Memimpin manajemen sekolah

Guru penggerak juga memiliki nilai-nilai yang harus selalu diterapkan dan agar dapat menjadi teladan bagi rekan guru dan juga komunitasnya. Nilai-nilai tersebut antara lain yaitu.

1.       Mandiri

2.       Reflektif

3.       Kolaboratif

4.       Inovatif

5.       Berpihak pada murid

Peran guru penggerak di dalam pembelajaran dan pengembangan sekolahnya yaitu sebagai berikut.

1.       Berkolaborasi dengan orangtua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan kepemimpinan murid.

2.       Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah.

3.       Mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi dan berkolaborasi

4.       Memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual.

5.   Merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan melibatkan orangtua.

6.     Mewujudkan profil pelajar Pancasila yang terdiri atas beriman, bertakwa kepada tuhan YME, dan berakhlak    mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan kebhinekaan global.

    Pola pikir yang harus dimiliki seorang guru penggerak dalam melaksanakan tindakannya yaitu ada dua pola pikir yaitu pola pikir cepat dan pola pikir lambat.

1.  Pola Pikir Cepat (Thinking Fast) - Bagian batang otak & sistem limbik 'diprogram' untuk mengonversikan energi (auto-pilot atau otomatisasi) > kecenderungan alamiah. Jalur: Aksi > Reaksi.

2.   Pola Pikir Lambat (Thinking Slow) - Untuk berpikir strategis, kreatif, metakognitif > merupakan kekuatan yang juga sekaligus merupakan masalah > memakan banyak energi. Jalur: Aksi > Reaksi > Respon (pilihan-putusan sadar).

3.   Ingat kembali refleksi diri Anda pada bagian Refleksi Terbimbing serta ilustrasi yang sudah Anda buat pada Demonstrasi Kontekstual (sebagai gambaran Anda). Apa strategi yang bisa Anda lakukan untuk mencapai nilai tersebut?

Refleksi Mandiri

Untuk mencapai nilai guru penggerak yang tergerak untuk bergerak dan menggerakkan bisa menempuh strategi yang tepat. Berikut ini:

1)  Pertama, senantiasa melakukan refleksi diri atas usaha perubahan yang telah dilakukan. Hal ini akan memudahkan guru penggerak menentukan langkah tepat guna menjamin keberlangsungan perubahan. Di dalamnya termasuk upaya meningkatkan kekuatan dan usaha menguatkan kelemahan. Untuk dapat melakukannya dengan baik, tentu guru penggerak harus menyelami lebih dalam kekuatan dan kelemahan diri. Kemauan dan kemampuan melakukan hal ini akan menjadi kunci memperbaiki diri. Perbaikan diri akan membuat upaya bergerak semakin menuju arah yang lebih baik. Menggerakkan pun juga akan semakin mudah.

2)   Kedua, menjaga komitmen dan konsistensi terus tergerak untuk bergerak dan menggerakkan. Strategi ini erat kaitannya dengan nilai guru penggerak yang mandiri dan inovatif. Komitmen akan membuat seorang guru penggerak tergerak menjaga perubahan dan menggali kemungkinan perubahan lainnya. Tentunya perubahan yang sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, yaitu sesuai kodrat alam dan zaman. Sementara itu, konsistensi akan menjadi jaminan bagi seorang guru penggerak untuk terus melakukan inovasi guna menciptakan pembelajaran bermakna. Konsistensi menggali ide dan gagasan kreatif akan membuat ide dan gagasan terus mengalir.

3)    Ketiga, menguatkan komunikasi dan kerjasama. Strategi ini berkaitan dengan nilai kolaboratif. Sebuah nilai guru penggerak yang akan mendukung perannya sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach guru, dan menggerakkan komunitas praktisi. Komunikasi yang tepat akan membuat guru penggerak tergerak menjalani perannya. Kerjasama yang baik dengan pihak sekolah, sejawat, orang tua/wali murid, dan masyarakat akan memudahkan guru penggerak untuk terus bergerak dalam perubahan.

4.   Siapa saja pihak yang dapat membantu Anda dalam mencapai gambaran diri Anda di demonstrasi kontekstual tersebut? Seperti apa perannya?

Pihak Terkait

        Untuk bisa menjadi guru penggerak yang tergerak untuk bergerak dan menggerakkan bukan sekadar upaya dari dalam diri. Seorang guru penggerak membutuhkan pihak lain untuk mencapai gambaran diri. Pihak-pihak tersebut bisa saja berasal dari dalam maupun luar lingkungan sekolah.

·         Murid. Murid merupakan pihak utama yang mendukung guru penggerak dalam mencapai gambaran diri. Untuk bisa tergerak, murid memberikan dukungan dalam bentuk partisipasi aktif dalam implementasi setiap gagasan orisinal. Hal ini akan memacu guru penggerak berusaha terus menggali ide-ide lain selama proses partisipasi murid. Selanjutnya murid yang sepakat menerima gagasan akan memudahkan guru penggerak untuk terus bergerak. Termasuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan gagasan yang dijalankan. Selain itu, keaktifan murid yang berperan sebagai subjek akan membuat guru penggerak menggerakkan diri dan sekitarnya.

·         Teman Sejawat. Teman sejawat juga merupakan pihak yang dapat membantu guru penggerak mencapai gambaran diri. Peran teman sejawat di sini adalah sebagai rekan berkolaborasi. Keterbukaan guru penggerak untuk berkolaborasi adalah kunci. Teman sejawat akan mampu menempatkan diri sebagai rekan yang baik selama proses perubahan berjalan.

·         Warga Sekolah Lain. Selain murid dan teman sejawat, warga sekolah lainnya juga dapat membantu guru penggerak. Guna ketercapaian gambaran diri guru penggerak, warga sekolah lain berperan sebagai pemberi masukan positif. Sebagai tokoh netral dalam proses pembelajaran, warga sekolah lain dapat memberikan masukan terkait efisiensi proses perubahan yang sedang dilakukan tanpa melibatkan ego pribadi.

·         Kepala Sekolah. Sebagai pemimpin di sekolah, kepala sekolah berperan dalam memberikan dukungan dan kebijakan dalam implementasi nilai dan peran guru penggerak. Dukungan kepala sekolah besar artinya bagi seorang guru penggerak untuk terus tergerak menemukan gagasan tepat guna. Selain itu, kebijakan sekolah yang berpihak pada guru penggerak akan memudahkan untuk bergerak dan menggerakkan.


·         Orang Tua/Wali Murid. Komponen ini tidak kalah pentingnya dalam membantu guru penggerak mencapai gambaran diri. Sebagai salah satu Tri pusat pendidikan, orang tua berperan menjadi sumber informasi kemajuan belajar murid di rumah. Dari informasi tersebut, guru penggerak bisa menyusun langkah tepat yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak mereka.

·    Komite Sekolah. Pihak lain yang juga berperan membantu guru penggerak adalah komite sekolah. Sebagai perwujudan dari orang tua/wali murid, komite sekolah memiliki peran menjangkau semua lapisan. Melalui komite sekolah, guru penggerak akan mudah melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran murid di rumah. Dengan demikian guru penggerak akan terpacu menemukan langkah konkrit untuk memberikan tuntunan pada murid.

Guru penggerak senantiasa tergerak untuk bergerak dan menggerakkan


Demonstrasi Konstektual - Nilai dan Peran Guru Penggerak || Modul 1.2.a.7.

Durasi : 2 JP Moda: Mandiri Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat menciptakan gambaran dirinya di masa depan, setelah mengikuti rangkaian program pendidikan Guru Penggerak Tanpa terasa, Bapak/Ibu telah memasuki sesi pembelajaran Pembelajaran 5 Demonstrasi Kontekstual! Sebagaimana judul unitnya, maka setelah Anda berproses merefleksikan diri Anda pada bagian pembelajaran sebelumnya, kini Anda diminta untuk berbagi dengan menyajikannya dalam bentuk sebuah karya. Bayangkan diri Anda, setelah mengikuti proses pendidikan Guru Penggerak selama 9 bulan. Pada saat tersebut, Anda tentunya sudah selesai mengikuti program pendidikan ini. Mari kita ciptakan visi kita di masa depan. Anda akan diminta untuk membuat sebuah karya 2 dimensi diri Anda sebagai Guru Penggerak setelah selesai mengikuti pendidikan Guru Penggerak. Pertanyaan yang bisa membantu Anda dalam menyusun ilustrasi ini adalah: Guru Penggerak seperti apakah saya? Nilai-nilai apa yang saya kuasai di masa depan? Mengapa nilai-nilai tersebut penting untuk saya? Karya dapat disajikan dalam bentuk gambar ilustrasi tangan/digital. Poin penting dalam penugasan ini adalah kejelasan profil diri Anda, sehingga tidak masalah jika ilustrasi Anda tidak sempurna. Anda dapat menambahkan teks untuk memperjelas ilustrasi tersebut. Hasil Ilustrasi ini dapat dikumpulkan sesuai tenggat waktu 2 hari setelah instruksi penugasan Demonstrasi Kontekstual.

Guru pengerak seperti apakah saya?